Langsung ke konten utama
Menu
Hubungi WhatsApp
Jumat, 31 Juli 2026 9 menit baca

Checklist Data Pengajuan Kemitraan ISP Bandung Raya

Diterbitkan oleh PT. Sinergi Jaringan Telekomunikasi

Ilustrasi isometrik jaringan ISP dengan node pusat, lokasi pelanggan, clipboard checklist, dan peta untuk pengajuan kemitraan ISP Bandung Raya

Checklist data pengajuan kemitraan ISP Bandung Raya dimulai dari omzet, lokasi, pelanggan, jaringan, dan dokumen yang dapat diperiksa. Untuk mengikuti evaluasi awal Program Kemitraan ISP SJT, siapkan omzet usaha internet tercatat minimal Rp30 juta per bulan, lalu lengkapi alamat atau koordinat, estimasi demand, kondisi site, serta ringkasan operasi.

Omzet Rp30 juta adalah kriteria seleksi komersial awal SJT, bukan persyaratan pemerintah dan bukan jaminan pengajuan langsung diterima. Tim masih perlu menilai pelanggan, billing, jaringan, aset, dokumen, coverage, serta pembagian peran sebelum menentukan apakah pembahasan teknis dan PKS dapat dilanjutkan.

Artikel ini ditujukan bagi pengusaha RT/RW Net, pengelola jaringan lokal, pemilik kawasan, gedung, kost, ruko, atau site distribusi yang ingin mengajukan Program Kemitraan ISP Bandung Raya. Jika ingin memahami pembagian wilayah lebih dahulu, baca cara menentukan wilayah pengajuan kemitraan ISP Bandung Raya.

Verifikasi editorial: diperbarui pada 31 Juli 2026 oleh Redaksi PT Sinergi Jaringan Telekomunikasi. Data wilayah dan alur pengajuan mengikuti halaman hub Bandung Raya. Kriteria omzet mengikuti informasi komersial Program Kemitraan ISP SJT yang berlaku pada tanggal verifikasi. Desain jaringan, coverage alamat, biaya, jadwal, dan PKS tetap bergantung pada evaluasi setiap lokasi.

Ringkasan checklist pengajuan

Gunakan daftar berikut sebagai pemeriksaan cepat sebelum menghubungi tim:

  • [ ] Omzet usaha internet tercatat minimal Rp30 juta per bulan.
  • [ ] Lokasi berada di salah satu wilayah target Bandung Raya.
  • [ ] Alamat lengkap, kecamatan, kelurahan, dan koordinat tersedia.
  • [ ] Nama PIC dan nomor kontak kerja dapat dihubungi.
  • [ ] Jumlah pelanggan aktif, paket, dan kebutuhan kapasitas dapat dijelaskan.
  • [ ] Kondisi jaringan existing, upstream, perangkat, dan aset telah dipetakan.
  • [ ] Listrik, rack, grounding, akses site, dan izin jalur yang diketahui sudah dicatat.
  • [ ] Dokumen usaha, billing, kontrak upstream, dan catatan operasional tersedia.
  • [ ] Setiap lokasi atau site dipisahkan dalam data tersendiri.

1. Penuhi kriteria omzet minimum Rp30 juta per bulan

Program Kemitraan ISP SJT saat ini menggunakan omzet usaha internet tercatat minimal Rp30 juta per bulan sebagai kriteria awal komersial. Omzet berarti pendapatan usaha sebelum biaya operasional, bukan laba bersih, nilai aset, atau total tagihan yang belum tertagih.

Siapkan ringkasan yang menjelaskan:

  • omzet per bulan dan periode pencatatannya;
  • jumlah pelanggan aktif dan nonaktif;
  • paket, tarif, dan rata-rata pendapatan per pelanggan;
  • pembayaran tertagih, tunggakan, dan metode rekonsiliasi;
  • biaya utama seperti upstream, listrik, teknisi, dan maintenance;
  • sistem billing atau cara pencatatan yang sedang digunakan.

Angka Rp30 juta bukan ketentuan Komdigi atau OSS. Ia merupakan kriteria program SJT untuk menyaring kesiapan komersial awal. Calon mitra yang memenuhi angka tersebut tetap perlu melewati evaluasi usaha, jaringan, dokumen, coverage, dan model operasi.

Pelajari juga syarat menjadi mitra ISP resmi agar perbedaan antara kriteria komersial program dan kewajiban regulasi tetap jelas.

2. Tulis lokasi dengan alamat dan koordinat

Hub Bandung Raya pada navigasi SJT mencakup 4 wilayah administratif: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Pembagian ini membantu mengarahkan pengajuan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan alamat.

Untuk setiap lokasi, tuliskan:

  1. alamat lengkap;
  2. kecamatan dan kelurahan atau desa;
  3. titik koordinat atau tautan peta;
  4. nama kawasan, gedung, perumahan, ruko, atau site;
  5. nama pemilik atau pengelola lokasi;
  6. PIC lapangan serta nomor kontak kerja.

Kota Bandung terdiri dari 30 kecamatan dan 151 kelurahan menurut Kota Bandung Dalam Angka 2026. Karena itu, “Bandung Timur” atau “dekat Bandung” belum cukup sebagai data lokasi. Sebutkan kecamatan aktual agar jalur evaluasi tidak dimulai dari asumsi.

Pada navigasi SJT, Bandung Timur, Bandung Utara, dan Bandung Selatan adalah klaster editorial di Kota Bandung. Kabupaten Bandung Barat memiliki halaman klaster sendiri. Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi tetap dapat diajukan dari hub Bandung Raya.

3. Jelaskan demand dan pelanggan awal

Jumlah pelanggan adalah salah satu bahan evaluasi, tetapi angka total tanpa konteks belum cukup. Tim perlu mengetahui siapa pelanggan tersebut, di mana titiknya, paket yang digunakan, dan bagaimana permintaan dapat dibuktikan.

Siapkan data seperti:

  • jumlah pelanggan aktif saat ini;
  • jumlah calon pelanggan atau daftar minat awal;
  • sebaran pelanggan per cluster atau blok;
  • jenis pelanggan: rumah, kost, ruko, kantor, sekolah, atau kawasan;
  • paket dan kapasitas yang direncanakan;
  • estimasi waktu aktivasi pelanggan;
  • kompetitor atau jaringan existing yang terlihat di area.

Jika memiliki beberapa cluster demand, pisahkan berdasarkan lokasi. Lima puluh calon pelanggan yang tersebar jauh dapat membutuhkan desain berbeda dari lima puluh pelanggan yang berada dalam satu kawasan. Untuk metode penilaian yang lebih rinci, gunakan cara menilai kelayakan area kemitraan ISP.

4. Petakan jaringan existing dan kebutuhan kapasitas

Kirim gambaran jaringan yang sudah ada walaupun belum sempurna. Diagram sederhana dapat menunjukkan upstream, titik handoff, router, OLT, radio, ODP, jalur distribusi, perangkat pelanggan, dan bagian yang masih menjadi rencana.

Tuliskan pula:

  • kapasitas upstream saat ini dan kebutuhan awal;
  • media yang digunakan: fiber, wireless, atau kombinasi;
  • lokasi perangkat utama dan titik distribusi;
  • jumlah port, core, atau kapasitas yang masih tersedia bila diketahui;
  • gangguan berulang dan batasan jaringan yang sudah terlihat;
  • rencana pertumbuhan pelanggan dalam 3, 6, atau 12 bulan.

Data kapasitas tidak harus menjadi desain final. Fungsinya adalah memberi konteks agar tim dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan jalur, survei site, opsi handoff, atau pembahasan backhaul dan last-mile.

5. Dokumentasikan site, listrik, dan akses lapangan

Jaringan yang baik tetap membutuhkan site yang dapat diakses dan dikelola. Untuk tiap lokasi, catat kondisi berikut:

  • ruang perangkat dan ukuran rack;
  • sumber listrik, grounding, dan proteksi daya;
  • akses teknisi serta jam kerja yang diizinkan;
  • keamanan perangkat dan siapa yang memegang kunci;
  • jalur masuk kabel, tiang, duct, atau rute alternatif;
  • kebutuhan izin pemilik gedung, kawasan, atau jalan;
  • foto lokasi dan jalur yang aman untuk diambil;
  • PIC yang dapat memberikan persetujuan lapangan.

Untuk data foto, gunakan foto berarah dengan keterangan waktu atau titik pengambilan bila memungkinkan. Jangan mengambil foto di area terbatas tanpa izin. Checklist lebih rinci tentang foto, koordinat, listrik, rack, dan hambatan tersedia di checklist survei jaringan Bandung Timur; prinsipnya dapat dipakai untuk lokasi lain di Bandung Raya.

6. Siapkan billing dan alur layanan pelanggan

Kemitraan bukan hanya pembahasan jalur internet. Calon mitra perlu menjelaskan bagaimana pelanggan didaftarkan, ditagih, dilayani, dan ditangani ketika terjadi gangguan.

Jelaskan secara ringkas:

  1. siapa yang menerbitkan tagihan;
  2. bagaimana pembayaran dicatat;
  3. siapa yang mengaktifkan atau menonaktifkan pelanggan;
  4. kanal pengaduan yang digunakan;
  5. siapa yang menerima tiket gangguan;
  6. bagaimana eskalasi ke tim teknis dilakukan;
  7. bagaimana data pelanggan dilindungi.

Data pelanggan yang sensitif tidak perlu dikirimkan di ruang publik. Cukup sampaikan ringkasan dan metode pencatatan lebih dahulu; format pertukaran data dapat dibahas secara aman pada tahap evaluasi.

7. Kumpulkan dokumen usaha dan kontrak yang tersedia

Dokumen yang diperlukan bergantung pada kegiatan aktual dan model operasi. Siapkan dokumen yang tersedia, lalu tandai mana yang masih perlu dilengkapi:

  • identitas penanggung jawab;
  • akta atau profil badan usaha bila tersedia;
  • NIB dan data kegiatan usaha pada OSS;
  • kontrak upstream atau tagihan layanan yang sedang berjalan;
  • daftar aset dan pihak pemiliknya;
  • syarat layanan pelanggan;
  • dokumen penggunaan site atau izin jalur;
  • catatan billing dan pembayaran;
  • diagram jaringan serta daftar perangkat.

Portal OSS untuk aktivitas penjualan kembali jasa telekomunikasi dapat menjadi rujukan awal, tetapi pemilihan kegiatan usaha tetap perlu disesuaikan dengan aktivitas nyata. PKS juga tidak otomatis menggantikan kewajiban usaha setiap pihak.

Untuk memahami hal yang perlu dibahas sebelum tanda tangan, baca checklist klausul PKS kemitraan ISP.

Format data yang dapat langsung disalin

Gunakan satu blok untuk setiap lokasi atau site:

Nama usaha:
Omzet bulanan tercatat:
Periode pencatatan omzet:
Jumlah pelanggan aktif:
Paket dan tarif utama:

Alamat lengkap:
Kecamatan dan kelurahan/desa:
Koordinat atau tautan peta:
Jenis area:
Nama pengelola site:
PIC dan nomor kontak kerja:

Estimasi calon pelanggan:
Kebutuhan kapasitas awal:
Kondisi upstream dan jaringan existing:
Perangkat atau aset yang tersedia:
Listrik, grounding, rack, dan akses maintenance:
Jalur masuk kabel atau kendala lapangan:
Dokumen usaha dan kontrak yang tersedia:
Pertanyaan utama untuk tim SJT:

Jika memiliki 2 atau lebih lokasi, gandakan blok tersebut. Jangan menempatkan beberapa alamat dengan kebutuhan kapasitas berbeda dalam satu baris ringkasan.

Apa yang terjadi setelah data dikirim?

Pengiriman checklist bukan persetujuan otomatis. Alur evaluasi umumnya berjalan seperti berikut:

  1. tim menerima profil usaha dan data lokasi;
  2. omzet, pelanggan, area, dan kebutuhan awal diperiksa;
  3. data jaringan dan coverage dibandingkan dengan kebutuhan lokasi;
  4. tim meminta klarifikasi atau data tambahan bila diperlukan;
  5. pemeriksaan teknis atau survei dilakukan bila dibutuhkan;
  6. ruang lingkup, pembagian peran, dan model komersial dibahas;
  7. proposal dan PKS disusun setelah informasi cukup jelas.

Waktu tiap tahap tidak seragam. Kelengkapan data, kondisi last-mile, akses site, jumlah lokasi, kapasitas, dan kompleksitas migrasi dapat memengaruhi urutan serta durasinya. Mengirim data tidak mengikat calon mitra untuk menandatangani PKS.

Kesalahan yang sering membuat pengajuan berputar

Hanya mengirim nama kota

“Bandung Raya” terlalu luas untuk menyusun desain. Sertakan kecamatan, alamat, koordinat, dan jenis site agar pembahasan langsung mengarah ke lokasi yang nyata.

Menganggap omzet Rp30 juta sebagai jaminan diterima

Omzet minimal adalah kriteria awal komersial SJT. Tim tetap memeriksa apakah pendapatan dapat direkonsiliasi dengan pelanggan, paket, billing, jaringan, dan dokumen usaha.

Menggabungkan beberapa site

Setiap site dapat memiliki jalur, izin, listrik, demand, dan kapasitas berbeda. Pisahkan data per titik agar evaluasi teknis tidak menutupi risiko lokasi tertentu.

Mengirim diagram jaringan tanpa kepemilikan aset

Gambar jaringan perlu disertai informasi siapa yang memiliki, mengoperasikan, memperbaiki, dan dapat mengakses perangkat. Detail ini penting untuk pembagian tanggung jawab dalam PKS.

Menyatakan “coverage ada” tanpa pemeriksaan alamat

Bandung Raya adalah cakupan program pada level wilayah. Coverage teknis, jalur, handoff, last-mile, dan jadwal implementasi tetap ditentukan berdasarkan alamat dan evaluasi lokasi.

Kesimpulan: kirim data yang dapat ditindaklanjuti

Checklist pengajuan kemitraan ISP Bandung Raya yang baik memadukan omzet minimal Rp30 juta per bulan, alamat, koordinat, demand, jaringan, site, billing, dan dokumen. Data tersebut membantu PT Sinergi Jaringan Telekomunikasi memahami kesiapan usaha sebelum membahas survei, desain implementasi, proposal, dan PKS.

Jika data awal sudah siap, lanjutkan ke pengajuan Kemitraan ISP Bandung Raya. Sertakan ringkasan omzet, jumlah pelanggan aktif, alamat atau koordinat, kebutuhan kapasitas, kondisi jaringan, serta PIC. Mulailah dari satu lokasi yang datanya paling lengkap agar evaluasi pertama dapat berjalan terarah.

Sumber

FAQ Checklist Pengajuan Kemitraan ISP Bandung Raya

Berapa omzet minimum untuk mengajukan kemitraan ISP Bandung Raya? +

Kriteria awal komersial Program Kemitraan ISP SJT saat ini adalah omzet usaha internet tercatat minimal Rp30 juta per bulan. Angka ini bukan persyaratan pemerintah dan bukan jaminan pengajuan diterima; data pelanggan, jaringan, dokumen, coverage, dan model operasional tetap dievaluasi.

Data apa yang paling penting dikirim lebih dulu? +

Mulai dari omzet bulanan, jumlah pelanggan aktif, alamat lengkap, kecamatan, koordinat, kebutuhan kapasitas, kondisi jaringan existing, dan kontak PIC. Data awal ini membantu tim menentukan pemeriksaan coverage, kebutuhan survei, dan pembahasan berikutnya.

Apakah satu formulir dapat berisi beberapa lokasi? +

Boleh mengajukan beberapa lokasi, tetapi setiap alamat atau titik distribusi sebaiknya dipisahkan. Masing-masing dapat memiliki demand, jalur, akses site, kapasitas, dan kebutuhan perangkat yang berbeda sehingga tidak tepat digabungkan menjadi satu asumsi coverage.

Apakah mengirim data berarti langsung menjadi mitra? +

Tidak. Pengiriman data adalah awal evaluasi dan tidak mengikat calon mitra. Setelah data diperiksa, tim dapat meminta klarifikasi, melakukan pemeriksaan teknis atau survei, lalu membahas proposal dan PKS bila ruang lingkup kerja sama sudah cukup jelas.

Apakah Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi bisa mengajukan dari halaman ini? +

Bisa. Hub Bandung Raya pada navigasi SJT mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Untuk Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi, mulai dari hub ini dan tuliskan alamat, kecamatan, koordinat, demand, serta kondisi site secara lengkap.

Baca Selanjutnya

Related Artikel

Butuh Bantuan? Chat Kami!