Daftar Isi
- Apa yang dimaksud sharing profit dalam konteks program?
- Yang termasuk dalam pembahasan
- Yang tidak otomatis ditentukan oleh angka 60%
- Simulasi tiga skenario pelanggan
- Contoh rincian biaya internal
- Sensitivitas penagihan: omzet bukan selalu kas masuk
- Kapan model sharing profit ini cocok?
- Bedakan sharing profit, surplus operasional, dan laba bersih
- Tujuh hal yang perlu dikunci dalam PKS
- 1. Basis pembagian
- 2. Billing dan rekonsiliasi
- 3. Biaya dan pajak
- 4. Aset dan investasi
- 5. Pelanggan, merek, dan data
- 6. Kualitas layanan dan eskalasi
- 7. Pengakhiran dan penyelesaian sengketa
- Template input simulasi
- Cara membuat simulasi sharing profit sendiri
- Kesalahan yang sering terjadi
- Menganggap 60% sebagai laba bersih
- Menggunakan pelanggan terdaftar, bukan pelanggan membayar
- Mengabaikan biaya investasi dan pemeliharaan
- Mengira persentase menggantikan PKS
- Kesimpulan
- Sumber dan tanggal verifikasi
Angka 60% sering terdengar seperti jawaban sederhana: kalikan omzet, selesai. Dalam praktiknya tidak sesederhana itu. Simulasi sharing profit 60% Mitra SJT di bawah memisahkan pelanggan aktif, omzet, uang tertagih, biaya, dan laba bersih supaya calon mitra dapat melihat bagian mana yang benar-benar masuk ke kas.
Panduan ini ditujukan untuk pengusaha RT/RW Net, reseller internet lokal, dan pelaku usaha jaringan yang sedang membandingkan kemitraan ISP dengan pembelian bandwidth. Semua nominal di sini adalah contoh. Ganti dengan data billing, biaya, dan draft PKS Anda sebelum mengambil keputusan. Untuk konteks program, baca halaman Kemitraan ISP Bandung Raya dan syarat menjadi mitra ISP resmi.
Ditinjau editorial: Tim editorial Sinergi Jaringan Telekomunikasi meninjau panduan ini pada 4 Agustus 2026. Persentase dan cakupan pembagian tetap mengikuti PKS aktual, bukan ketentuan pemerintah.
Apa yang dimaksud sharing profit dalam konteks program?
Di halaman program SJT, skema komersialnya dijelaskan sebagai 60% untuk Mitra dan 40% untuk PT SJT, dengan rincian final di dalam PKS. Mitra mengelola pelanggan, billing, dan penjualan paket sesuai model yang disepakati. SJT memasok internet dan memberi dukungan pengembangan jaringan sesuai ruang lingkup perjanjian.
Istilah sharing profit dipakai untuk beberapa model. Di artikel ini, kami memakainya untuk menyebut pembagian pendapatan simulatif sebelum biaya internal Mitra, bukan pembagian laba akuntansi setelah biaya dan pajak. Jika PKS memakai definisi lain, gunakan definisi PKS tersebut.
Yang termasuk dalam pembahasan
- basis pendapatan yang dibagi;
- persentase bagian Mitra dan SJT;
- pelanggan dan paket yang masuk perhitungan;
- diskon, refund, tunggakan, dan pembayaran yang gagal;
- billing, rekonsiliasi, laporan, dan tanggal pembayaran;
- biaya, aset, pajak, dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Yang tidak otomatis ditentukan oleh angka 60%
- kepemilikan jaringan fiber, ODP, perangkat, site, dan listrik;
- kepemilikan data pelanggan atau akses ke sistem billing;
- penggunaan merek pada invoice dan materi pemasaran;
- klasifikasi kegiatan usaha atau KBLI;
- penggunaan IP publik dan ASN;
- hak menjual kembali kepada pihak lain;
- biaya pembangunan dan perlakuan aset ketika kerja sama berakhir.
Simulasi tiga skenario pelanggan
Tabel berikut mengikuti pola ilustrasi paket Rp150.000 per pelanggan per bulan. Biaya internal dan hasil akhir adalah asumsi edukatif, bukan quotation SJT. Pendapatan kotor dihitung dari pelanggan aktif dikalikan harga paket, lalu bagian Mitra dihitung 60% dari angka tersebut.
| Skenario | Pelanggan aktif | Pendapatan kotor per bulan | Bagian Mitra 60% | Biaya internal simulasi | Sisa sebelum pajak dan pendanaan |
|---|---|---|---|---|---|
| Basis awal | 50 | Rp7.500.000 | Rp4.500.000 | Rp2.750.000 | Rp1.750.000 |
| Basis berkembang | 100 | Rp15.000.000 | Rp9.000.000 | Rp3.250.000 | Rp5.750.000 |
| Basis skala | 200 | Rp30.000.000 | Rp18.000.000 | Rp6.500.000 | Rp11.500.000 |
Angka di tabel sengaja dibuat bulat supaya rumusnya mudah dicek. Data nyata biasanya tidak serapi ini, terutama ketika ada diskon, pelanggan menunggak, atau biaya perbaikan mendadak.\n\nBiaya internal pada contoh dapat mencakup support lokal, listrik dan site, maintenance, transportasi, administrasi, pemasaran, dan cadangan gangguan. Komponen tersebut tidak boleh dianggap sebagai daftar biaya resmi program. Ganti dengan biaya yang benar-benar berlaku di area, aset, dan model operasi Anda.
Contoh rincian biaya internal
Untuk skenario 100 pelanggan, biaya Rp3.250.000 dapat dipecah sebagai ilustrasi berikut:
- support atau teknisi lokal: Rp1.500.000;
- listrik, site, dan akses perangkat: Rp750.000;
- maintenance dan cadangan perangkat: Rp500.000;
- administrasi, penagihan, dan komunikasi: Rp500.000.
Jika bagian Mitra Rp9 juta dan biaya internal Rp3,25 juta, sisa simulasi menjadi Rp5,75 juta sebelum pajak, bunga, depresiasi, investasi lanjutan, dan biaya yang belum dimasukkan. Karena itu, kalimat “Mitra mendapat 60%” tidak sama dengan “Mitra memperoleh laba bersih 60%”.
Sensitivitas penagihan: omzet bukan selalu kas masuk
Jumlah pelanggan dan harga paket menghasilkan pendapatan kotor. Arus kas bergantung pada pelanggan yang benar-benar membayar. Untuk contoh 100 pelanggan dengan paket Rp150.000, berikut perbandingan apabila basis pembagian menggunakan pendapatan tertagih.
| Tingkat penagihan | Pendapatan tertagih | Bagian Mitra 60% | Selisih dari basis penuh |
|---|---|---|---|
| 90% | Rp13.500.000 | Rp8.100.000 | Rp900.000 |
| 95% | Rp14.250.000 | Rp8.550.000 | Rp450.000 |
| 100% | Rp15.000.000 | Rp9.000.000 | Rp0 |
Tabel ini tidak menetapkan cara pembayaran. Fungsinya hanya memperlihatkan mengapa PKS perlu membedakan pendapatan tercatat dari uang yang sudah tertagih. Pisahkan tunggakan, refund, diskon, dan tanggal pembayaran saat membuat laporan bulanan.
Kapan model sharing profit ini cocok?
Model ini paling berguna ketika draft PKS sudah menjelaskan basis pendapatan, billing bisa direkonsiliasi, dan biaya lokal dapat dipisahkan dari bagian Mitra. Kalau Anda membeli kapasitas tetap lalu menanggung seluruh penjualan sendiri, gunakan perbandingan kemitraan ISP dan pembelian bandwidth sebagai model terpisah. Rumus 60% tidak bisa dipindahkan begitu saja karena risiko kas dan kepemilikannya berbeda.
| Kondisi usaha | Gunakan simulasi sharing profit ketika | Gunakan model bandwidth ketika |
|---|---|---|
| Billing dan pembagian tertulis | PKS menentukan basis, cut-off, dan rekonsiliasi | Pendapatan retail tetap dikelola sendiri |
| Biaya jaringan | Biaya Mitra dapat dipisahkan dari bagian SJT | Anda menanggung kapasitas dan biaya upstream |
| Fokus keputusan | Menguji pembagian pendapatan dan arus kas | Menguji margin retail, utilisasi, dan kapasitas |
Bedakan sharing profit, surplus operasional, dan laba bersih
Tiga istilah berikut tidak boleh dicampur:
- Bagian Mitra adalah persentase dari basis pendapatan sesuai simulasi atau PKS.
- Surplus operasional adalah bagian Mitra setelah dikurangi biaya operasional yang ditentukan dalam model.
- Laba bersih adalah hasil setelah memperhitungkan biaya yang relevan, pajak, depresiasi, bunga, kerugian piutang, dan penyesuaian akuntansi sesuai kondisi usaha.
Perlakuan pajak tidak dapat diputuskan hanya dari angka sharing profit. Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan bahwa penghasilan dan kewajiban pajak bergantung pada bentuk serta kondisi Wajib Pajak; gunakan mekanisme penghitungan Pajak Penghasilan Badan sebagai rujukan awal, lalu konsultasikan kondisi spesifik kepada profesional pajak.
Tujuh hal yang perlu dikunci dalam PKS
Sebelum menghitung potensi pendapatan, minta penjelasan tertulis tentang tujuh hal ini:
1. Basis pembagian
Pastikan apakah persentase diterapkan pada invoice, pembayaran tertagih, pendapatan setelah diskon, atau definisi lain. Minta contoh satu bulan dengan pelanggan aktif, tunggakan, refund, dan perubahan paket.
2. Billing dan rekonsiliasi
Tanyakan siapa yang menerbitkan invoice, menerima pembayaran, menyimpan catatan transaksi, menangani pelanggan menunggak, dan menyediakan laporan. Pastikan tanggal cut-off serta mekanisme koreksi dapat ditelusuri.
3. Biaya dan pajak
Pisahkan biaya yang sudah termasuk dalam porsi SJT dari biaya yang tetap menjadi tanggung jawab Mitra. Jangan memasukkan “all-in” ke model tanpa meminta definisi tertulis tentang komponen pajak, instalasi, perangkat, dan pekerjaan sipil.
4. Aset dan investasi
Catat siapa yang membiayai fiber, ODP, router, OLT, rak, listrik, site, dan perangkat pelanggan. PKS juga perlu menjelaskan pemeliharaan, akses, penggantian, dan perlakuan aset saat kerja sama berakhir.
5. Pelanggan, merek, dan data
Jelaskan siapa yang menawarkan paket, menggunakan merek, mengelola data pelanggan, menangani komplain, dan memberi persetujuan perubahan harga. Persentase bagi hasil tidak otomatis menjawab semua pertanyaan tersebut.
6. Kualitas layanan dan eskalasi
Minta definisi kanal support, waktu respons, tanggung jawab gangguan, kompensasi bila ada, dan prosedur eskalasi. Jika belum ada pengukuran SLA, jangan memasukkan target SLA ke simulasi sebagai hasil yang sudah tercapai.
7. Pengakhiran dan penyelesaian sengketa
Periksa masa kerja sama, masa pemberitahuan, pelanggan yang masih aktif, pengembalian atau pengalihan aset, data, tagihan terbuka, serta cara menyelesaikan perselisihan.
Dalam konteks jual kembali jasa telekomunikasi, Permenkominfo Nomor 13 Tahun 2019 memuat ketentuan mengenai perjanjian kerja sama, merek, standar layanan, billing, dan IP publik/ASN. JDIH mencatat perubahan atas aturan ini melalui Permenkominfo Nomor 2 Tahun 2020, Permenkominfo Nomor 1 Tahun 2021, dan Permenkominfo Nomor 14 Tahun 2021. Baca urutan perubahan tersebut bersama PKS dan cek regulasi terbaru sebelum mengambil keputusan.
Template input simulasi
Salin tabel ini ke spreadsheet sebelum mengisi rumus. Kolom terakhir sengaja dibiarkan kosong supaya angka contoh tidak tertukar dengan data usaha Anda.
| Input | Contoh | Data aktual |
|---|---|---|
| Pelanggan aktif | 100 | Isi dari billing |
| Harga paket rata-rata | Rp150.000 per bulan | Isi dari daftar paket |
| Tingkat penagihan | 95% | Isi dari laporan pembayaran |
| Basis pembagian | Pendapatan tertagih | Ikuti PKS |
| Biaya internal Mitra | Rp3.250.000 per bulan | Isi dari biaya lokal |
| Cut-off dan tanggal pembayaran | Akhir bulan / awal bulan berikutnya | Ikuti PKS |
Dengan format ini, pembaca dapat mengulang hitungan yang sama untuk area berbeda. Simpan sumber setiap angka dan tanggal pengambilannya; dua hal kecil ini sering hilang saat model dibahas ulang.
Cara membuat simulasi sharing profit sendiri
Jangan berhenti di angka persentase. Isi model dengan langkah berikut:
- Ambil jumlah pelanggan aktif berdasarkan billing, bukan estimasi rumah yang bisa dijangkau.
- Kelompokkan paket, harga, diskon, pelanggan nonaktif, dan tunggakan.
- Tentukan tiga basis pendapatan: invoice, tertagih, dan skenario penagihan buruk.
- Hitung bagian Mitra dan SJT dengan persentase yang tertulis dalam draft PKS.
- Masukkan biaya support, listrik, site, maintenance, perangkat, administrasi, pajak, dan pendanaan.
- Buat stress test untuk pelanggan turun 10%, penagihan turun lima poin, atau biaya lokal naik 15%.
- Bandingkan sisa operasional dengan target investasi dan kebutuhan kas minimal.
- Simpan versi model, sumber angka, tanggal, serta pertanyaan yang belum dijawab.
Gunakan analisis keuntungan bisnis RT/RW Net dengan tiga skenario sebagai kerangka tambahan. Untuk pengajuan Bandung Raya, siapkan data melalui checklist data pengajuan kemitraan ISP, lalu bahas rincian komersial dan teknis bersama tim.
Kesalahan yang sering terjadi
Menganggap 60% sebagai laba bersih
Bagian pendapatan masih harus diuji terhadap biaya dan pajak. Tulis model dengan kolom terpisah agar pembaca tidak salah membaca margin.
Menggunakan pelanggan terdaftar, bukan pelanggan membayar
Pelanggan aktif yang menunggak tetap memengaruhi arus kas. Gunakan data pembayaran dan periode cut-off yang sama dengan laporan sharing.
Mengabaikan biaya investasi dan pemeliharaan
Perangkat, kabel, listrik, site, dan pekerjaan teknis dapat mengubah hasil bulanan. Masukkan cadangan atau buat skenario kejadian besar secara terpisah.
Mengira persentase menggantikan PKS
Persentase tidak menggantikan definisi pelanggan, aset, billing, merek, data, kualitas layanan, pajak, pengakhiran, dan sengketa. Semua bagian tersebut harus dibahas tertulis.
Kesimpulan
60% memang menarik, tetapi angka itu baru titik awal. Simulasi yang berguna harus memperlihatkan basis pendapatan, biaya yang ditanggung Mitra, tingkat pembayaran, dan apa yang terjadi ketika pelanggan atau kas turun.
Jika Anda hendak membahas kemitraan ISP di Bandung Raya, bawa model yang memakai pelanggan dan pembayaran yang benar-benar tercatat. Setelah area, jaringan, billing, dan pertanyaan PKS siap, lanjutkan ke halaman Kemitraan ISP Bandung Raya.
Sumber dan tanggal verifikasi
Informasi komersial pada artikel ini diverifikasi per 4 Agustus 2026. Sumber berikut digunakan untuk konteks program, kewajiban perpajakan umum, dan jual kembali jasa telekomunikasi:
- Program Kemitraan ISP Bandung Raya
- OSS — KBLI 61201 Aktivitas Penjualan Kembali Jasa Telekomunikasi
- Permenkominfo Nomor 13 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi
- Permenkominfo Nomor 2 Tahun 2020 — Perubahan
- Permenkominfo Nomor 1 Tahun 2021 — Perubahan Kedua
- Permenkominfo Nomor 14 Tahun 2021 — Perubahan Ketiga
- Direktorat Jenderal Pajak — Mekanisme Penghitungan Pajak Penghasilan Badan
FAQ Simulasi Sharing Profit 60% Mitra SJT
Apakah sharing profit 60% berarti Mitra pasti mendapat laba 60%? +
Tidak. Angka 60% pada simulasi adalah bagian Mitra dari basis pendapatan yang disepakati, bukan margin laba bersih. Mitra masih perlu membayar biaya internal seperti support lokal, listrik, site, maintenance, penagihan, pajak, dan pendanaan sesuai kegiatan serta PKS aktual.
Sharing profit 60% dihitung dari omzet kotor atau pendapatan tertagih? +
Ada dua cara membaca angka ini. Tabel utama memakai pendapatan paket sebagai ilustrasi, sedangkan tabel sensitivitas menunjukkan apa yang terjadi bila pembagian memakai pendapatan tertagih. PKS perlu menyebut basis final, termasuk perlakuan diskon, refund, piutang, dan pajak.
Apakah sharing profit 60% otomatis menentukan kepemilikan pelanggan dan aset? +
Tidak. Persentase bagi hasil tidak otomatis menentukan siapa pemilik fiber, ODP, perangkat, data pelanggan, merek, billing, atau IP dan ASN. Setiap aset, akses, tanggung jawab, dan mekanisme pengakhiran kerja sama perlu diperiksa serta dituangkan dalam PKS.
Apakah omzet Rp30 juta per bulan sama dengan bagian Mitra 60%? +
Tidak. Omzet minimal Rp30 juta per bulan merupakan kriteria penyaringan komersial program yang terpisah dari persentase sharing profit. Omzet harus dibuktikan melalui data pelanggan, paket, billing, dan pembayaran; penerimaan tetap mengikuti evaluasi usaha, jaringan, dokumen, coverage, dan PKS.
Data apa yang harus disiapkan untuk membuat simulasi yang lebih akurat? +
Siapkan pelanggan aktif dan nonaktif, harga paket, tingkat penagihan, tunggakan, biaya support, listrik, site, maintenance, pajak, perangkat, pendanaan, area layanan, dan quotation aktual. Pisahkan omzet, pendapatan tertagih, bagian Mitra, biaya, serta laba bersih agar pembahasannya tidak tercampur.
Baca Selanjutnya
Related Artikel
10 Tanda RT/RW Net Anda Siap Mengajukan Kemitraan ISP
Kenali 10 indikator kesiapan RT/RW Net sebelum mengajukan kemitraan ISP, mulai dari omzet, pelanggan, area, jaringan, aset, billing, tim teknis, hingga dokumen usaha.
Kemitraan ISP vs Buka ISP Sendiri: Mana yang Cocok untuk RT/RW Net?
Bandingkan kemitraan ISP dan membuka ISP sendiri untuk RT/RW Net: kontrol bisnis, jaringan, dokumen, pelanggan, risiko operasional, serta cara memilih jalur yang sesuai.
Analisis Keuntungan RT/RW Net 2026: Tiga Skenario Simulasi
Simulasi konservatif, moderat, dan agresif untuk membantu menguji kelayakan RT/RW Net dengan asumsi yang dapat diganti.